Selasa, 03 Juni 2008

Cerita 3 Anak Sulung

Untuk mencari jawabannya, gua mau cerita masa kecil gua dulu ketika gua
lahir di Medan. Ceritanya orang tua gua kerja di kilang minyak lepas
pantai di medan beserta 3 orang engineer lainnya. Kita sebut saja mereka
Pak AA, Pak BB, Pak CC dan bokap. Mereka semua diberi rumah berderet
persis. Kita berbagi pekarangan belakang yang sama. Mereka semua juga
sama, pengantin baru. Engineer-engineer yang baru lulus, keterima kerja
dan ketika tahu bahwa mereka ditempatkan di Medan, langsung ngajak
kawin. Di tahap ini mereka masih sama. bahkan mereka melahirkan anak
sulung mereka di waktu yang berdekatan. Kemudian mereka melahirkan anak
kedua dan ketiga. Keempat engineer ini sistem kerjanya adalah 3 minggu
di oil rig dan 3 minggu di rumah. Dan di sini lah gua mulai bisa mengingat.

Pak AA
Pak AA punya dua anak. AA sulung dan AA bungsu. Pak AA ingin mendidik
disiplin pada mereka. Metode yang dia gunakan adalah mencambuk dengan
ikat pinggang. Yang lain adalah sapu lidi dan rotan kalo gak salah. Gua
pernah main ke rumah Pak AA dan mendapati AA sulung menangis di sofa. AA
bungsu hanya melihat dari kejauhan.

Pak BB
Pak BB punya dua anak. BB sulung dan BB bungsu. Pak BB mendidik
anak-anaknya dengan mengancam. Yang paling sering kena adalah BB sulung.
Diancemnya macem-macem. Gua pernah main di halaman belakang dan
mendapati BB sulung stres berat. Dan stresnya gak main-main. BB sulung
jadi mengidap kelainan saraf motorik di mana meski gak ada angin gak ada
apa, dia kelojotan sendiri. Gua pernah tanya ke nyokap kenapa BB sulung
seperti itu. Ternyata karena stres. Umur kita di bawah 10 tahun by the
way, waktu itu.

Pak CC
Pak CC punya 3 anak. CC sulung, CC tengah dan CC bungsu. Gua melihat dia
sabar dan mengayomi. Seakan sadar bahwa gak banyak yang dia bisa
harapkan dari anak kecil dan kenakalannya. Sering ajak diskusi, kasih
perhatian. Dia jarang marah. Malah gua gak pernah melihat dia marah,
setidaknya ketika gua main sama anak-anaknya. Mungkin dia sadar bahwa
setelah 3 minggu gak ketemu, dia harus win back simpati anak-anaknya
makanya dia gak ambil pusing sama sedikit kesalahan-kesalahan adolescent
mereka.

10 tahun kemudian
Lama berselang dari masa kecil kita, keempat keluarga ini banyak yang
pindah ke kantor pusat mereka di Jakarta. Kita masih sering ketemu kalo
ada acara kantor bokap. Tapi karena rumahnya jauhan, jadi jarang. Makin
kita besar, kita makin lepas kontak.

25 tahun kemudian
Suatu hari kakak gua menikah dan bokap mengundang semua teman lamanya ke
resepsi. Gua excited banget karena anak-anak AA BB dan CC ini. Dan ini
yang gua dapatkan:

Anak-anak AA
AA bungsu lagi S2 dan sudah jadi kontraktor.
AA sulung mengidap narkoba.

Anak-anak BB
BB bungsu yang masih SMA sudah bolak-balik jakarta-Sao Paolo karena dia
jadi duta Unicef dalam sebuah world wide programnya.
BB sulung kuliah aja seperti biasa dan itu pun katanya kesulitan
berprestasi. Setelah 25 tahun ini, kelainan syarafnya masih ada.

Anak-anak CC
CC bungsu sekolah di Amrik.
CC tengah memilih kerja di San Diego .
CC sulung kerja di salah satu bank paling bergengsi di Indonesia .

Dari sini gua mikir. kenapa AA dan BB sulung memiliki kesulitan hidup?
Sedangkan AA dan BB bungsu menjalani kehidupan yang gua bilang
spektakuler. Ini berlawanan sekali dengan stigma yang hadir dalam
kehidupan bangsa timur di mana kita kerap berpandangan:

- Si sulung anak yang mantep, mandiri.
- Si bungsu adalah anak manja yang gak bisa mandiri. Anak mami.

Sering kali dalam 20 tahun pertama hidup gua, dalam cincin sosial gua,
ada aja yang bilang
"Lu bungsu sih Dit"
"Lu bungsu ya Dit?"
"Dasar bungsu! Gini aja capek."

Jawabannya adalah:
1. Bungsu, dengan cepat belajar dari kesalahan kakaknya.
Sementara kakaknya nabrakin mobil dan dimarahin sampe trauma oleh si
bapak, si bungsu dengan cepat belajar "Oh, nabrakin mobil gak boleh."
Dan ada banyak sekali hal-hal seperti ini di mana si sulung harus suffer
dan si bungsu menuai pelajarannya. Sementara si sulung trauma dan
kehilangan confidence untuk proaktif mencoba sesuatu lagi, si bungsu
jadi well prepared dan malah penasaran pengen nyoba apakah dia bisa do
better apa nggak.

2. Orang tua cenderung tidak sadar bahwa dia bereksperimen dengan si sulung.
Mau gak mau, memiliki si sulung adalah pengalaman pertama mereka menjadi
orang tua. Ketika mereka menemukan sulung melakukan kesalahan, 40%
kemungkinan orang tua juga gak tau anaknya harus diapain. Si sulung
mecahin kaca dan digampar bapaknya. Tapi setelah lama bapaknya sadar
bahwa sulung jadi trauma. Dia insyaf dan berjanji tidak mengulangnya.
Ketika bungsu mecahin toples, si bapak gak gampar. Sementara si bungsu
termaafkan, sulung yang udah trauma digampar, juga sakit hati melihat
perlakuan yang gak adil. Padahal sang bapak udah insyaf juga udah baik.
Serba salah.

Dan ada banyak sekali kejadian seperti ini dalam kehidupan adik kakak.
Pak AA misalnya, AA sulung pada awalnya dididik dengan sangat keras. 5
tahun kemudian sepertinya Pak AA sadar bahwa metodenya salah sehingga
approach pada AA bungsu sangat berbeda. Sedihnya lagi, Pak AA terkadang
menyiratkan kekecewaannya bahwa AA sulung -kasarnya nih- "produk gagal"

Padahal kalo gua lihat, kegagalan ada di pihak dia. Gimana nggak? Di
saat AA sulung berumur 5 tahun, di mana dia mendefine benar-salah dari
ajaran ortu, dia jarang ketemu bapaknya yang ada di oil rig dan
pulang-pulang di sabuk.

3. Orang Tua juga berproses untuk menjadi dewasa.
Orang tua hidup di dua jaman. jaman dia jadi anak dan jaman dia jadi
orang tua. Kedua jaman ini beda total. Masalahnya, ada beberapa orang
tua yang anak sulungnya masuk usia didik kritis (masa di mana anak kecil
mendefine benar-salah dari ajaran ortu -ini masa yang gua define sendiri
ya, gak tau di dunia psikologi ada apa nggak. Yang jelas sarjana
psikologi lebih tahu deh dari gua) orang tuanya masih hidup di jaman
dulu. contoh kasus,

Beberapa temen sulung gua ketika mulai pacaran susahnya setengah mati.
Ada yang dibilang gak boleh lah, ada yang harus gini lah, gitu lah. Tapi
giliran si bungsu pacaran dengan usia yang relatif lebih cepat, orang
tua nyantai. Mungkin karena di saat ini orang tua sudah mulai
beradaptasi dengan jaman sekarang. Di tambah lagi dengan kecenderungan
di mana si bungsu ingin melakukan apa yang si sulung lakukan. Sulung
pacaran di usia 18, kemungkinan besar si bungsu pacaran dari umur 14
karena melihat asyiknya si kakak.

There you have it, susahnya jadi orang tua.

Kalo anak gak didisiplinkan, takutnya jadi rusak dan pembangkang. Kalo
gak pernah dimarahin, takutnya jadi lembek. Di setiap saat orang tua
harus dihadapkan dengan pilihan kemungkinan yang gak enak ini. Dan sadar
tidak sadar pilihan yang mereka ambil membentuk mentalitas para anaknya.

Dan yang menyeramkan bagi orang tua, sadar gak sadar, mentalitas anak
adalah bekal si anak untuk survive di kehidupan mereka nanti.

As for me and kakak gua, we grew up fine. Dan gua gak ngomong gitu
karena bokap gua adalah penggemar blog gua, tapi we really did grow up
fine. Kakak gua pinternya setengah mati, S2 dan jadi dosen. Profesi yang
gua bilang sangat mulia karena membantu membuka wawasan muridnya agar
muridnya bisa menjadi sukses. Gua? well, you know how I am now.

Tapi memang ada yang gua pelajari dari bokap yang gua belajar untuk
nggak. Yaitu kerja di tempat remote yang jauh dari keluarga.

Nyokap gua pernah cerita, ketika gua masih ngerangkak dan hobi nelen
kelereng, kakak gua udah bisa ngomong. Suatu hari bokap pulang dari oil
rig dan kakak gua nanya ke nyokap "Mah, itu siapa?"

Gua kebayang pasti bokap sedih kalo inget atau tahu cerita ini. Yang
jelas, gua sengaja milih apartemen di Singapur ini yang bisa jalan kaki
ke kantor. Makan siang gua bisa pulang dan main sama Alde. Gua pernah
baca di intisari bahwa ada kecenderungan di mana anak yang menghabiskan
banyak waktu dengan bapaknya, ketika udah gede, kepandaiannya di atas
rata-rata.

Makanya sampe sekarang gua belum pernah nulis lagi sejak Alde lahir. Gua
pengen make sure, he has enough attention a child can get from both parents.

In the end, jadi orang tua itu adalah pilihan yang kesiapannya terkadang
harus lebih dalam dari yang kita kira. Gua cuman bersyukur gua punya
masa kecil dan teman-teman yang di mana gua bisa nimba pengalaman. Agar
gua bisa terapkan atau malah jangan terapkan ke keluarga gua yang kecil
ini.
curve my life......

Dari : milis Money Magnet

0 Comments:

Post a Comment